Minggu, 22 Januari 2017

JADIKAN DAKWAH SEBAGAI KERJA UTAMA
           
            Dalam agama yang dijadikan rahmatan lil alamin menyeru manusia pada kebaikan merupakan anjuran yang pernah dilakukan pula oleh manusia paling mulia dan derajat tertinggi yakni nabi muhammad S.A.W. Seruan yang mengajak pendekatan diri kepada Allah S.W.T., biasa disebut oleh umat Nabi muhammad S.A.W. yakni sebagai dakwah. Dalam berdakwah maka manfaat akan dirasakan bagi orang lain. Hal itu telah di Firmankan oleh Allah S.W.T., di dalam AL Qur’an :
“dan berilah perilah peringatan, sesungguhnya peringatan itu bermanfaat bagi orang-orang beriman.” (Adz-Dzariyat :55)

Ahli tafsir telah menuliskan bahwa ayat ini bermaksud  mentablighkan ajaran Islam artinya memberi peringatan kepada mukminin dengan ayat-ayat Al-Qur’an, dan ini sangatlah bermafaat untuk menghidupkan agama serta meyenlematkan manusia dari perbutan dosa dan sebagai pengingat bagi diri kita sendiri yang mendakwahkannya. Di lain sisi, dakwah merupakan ucapan yang terbaik dan termasuk perbuatan amal shalih. Hal tersebut seperti apa yang Allah Firmankan :
“ Orang yang  paling baik perkatannya adalah orang yang menyeru kepada Allah dan mengerjakan kebajikan serta, “Sungguh, aku termasuk orang-orang yang berserah diri.” (Q.S. Fussilat ;33)

Sebagai umat akhir zaman, sangat sedih ketika kita mengetahui pada zaman ini terlihat banyaknya perbuatan manusia yang semakin jauh dari nilai-nilai agama Islam. Bahkan cenderung pada kesyirikan seperti yang nampak pada zaman jahiliah. Sebagai umat Nabi Muhammad yang tak lain Beliau S.A.W. merupakan Nabi penutup dari segala Nabi, utusan dari Allah atas penyempurna dari seluruh ajaran, penerima wahyu yang dijadikan pelengkap dari segala wahyu, dan Nabi dari seluruh umat manusia setelah diutusnya sebagai Rasululloh, sudah menjadi keharusan bagi umatnya untuk meneruskan perjuangan yang telah dilakukan oleh Rasulnya. Perjuangan itu adalah menyeru pada kebaikan dan mencegah dari kemungkaran. Seperti dalil yang telah tertera di dalam Al Qur’an :
“ kamu (umat Islam) adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia karena kamu menyuruh berbuat berbuat ma’ruf, mencegah dari yang mungkar dan beriman kepada Allah. Sekiranya ahli kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka. Di antara mereka ada yang beriman, tetapi kebanyakan mereka adalah orang-orang fasik”. (Q.S. Ali-Imran ; 110)

Dan sunguh suatu hal yang dapat memberikan kebaikan bagi para orang yang menyeru pada kebaikan adalah adanya pahala yang telah Allah sediakan ketika orang yang kita dakwah itu mengamalkannya. Kabar gembira itu tertera pada hadits yang telah diriwayatkan oleh perawi hadits mahsyur. Rasulullah S.A.W. bersabda, “barangsiapa mengajak seseorang kepada suatu kebaikan. Maka ia mendapat pahala sebanyak pahala yang mengikutinya, tanpa mengurangi pahala mereka sendiri sedikitpun.” (H.R. Muslim).

Hal-hal yang perlu diperhatikan dan dijadikan sebagai kriteria berdakwah perlu diketahui. Sebagaimana pembagiannya, dakwah terbagi menjadi tiga tahapan yaitu melalui kekuasaan, melalui lisan, dan dibenci oleh hati. Kebencian yang di dalam hati merupakan batas minimal kemampuan berdakwah. Dengan kebencian itu menandakan kita tak setuju dengan perbuatan dosa tersebut. Lalu jika ada pertanyaan mengenai siapa sajakah orang-orang yang perlu kita dakwahi, jawabnya ialah Setiap umat Islam ini bertanggung jawab berdakwah kepada seluruh manusia. Hal tersebut telah Allah nyatakan di dalam Firman-Nya di surat Ali Imran ayat 110.

Hal-hal yang perlu kita dakwahkan kepada manusia terbagi menjadi tiga hal pula, yakni mengajak manusia dari kebesaran Allah, dari kebesaran dunia kepada kebesaran akherat, dari kebesaran harta kepada kebesaran amal. Jika sudah diketahui tahapan dari dakwah serta hal-hal yang perlu di dakwahkan maka sudah seharusnya kita mengkuatkan niat dalam berdakwah. Karena dakwah hanya bisa berhenti hingga maut memisahkan. Seperti yang telah diriwayatkan oleh perawi hadits, Rasulullah S.A.W. bersabda, “ siapa yang sampai mati tidak berjuang jihad dan tidak bergerak dalam hatinya untuk berjihad fi sabilillah, maka ia mati disalah satu cabang nifak (disalah satu bagian munafik).” (H.R. Muslim).


 Jika engkau tak mampu berjihad dalam berdakwah, maka sudah dapat dipastikan engkau tak akan siap berjihad dalam pertempuran. Jika engkau belum mendapat kesempatan jihad dalam pertempuran, berjihadlah dengan berdakwah. Karena dakwah merupakan bagian dari jihad fi sabilillah yang menegakkan agama yang di ridhoi Allah S.W.T.  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar