Kamis, 26 Januari 2017

KOLOM " UAS"

DIBALIK HARGA CABAI YANG MAKIN PEDAS

Tatkala ramainya persidangan kasus penistaan Agama oleh Ahok (Basuki Tjahya Purnama) yang terhias di stasiun- stasiun Televisi, kini ada hal yang lebih ramai untuk diperbincangkan oleh khalayak terkait berita yang mengabarkan naiknya harga cabai. Terasa sudah di Indonesia, beberapa daerah sudah bisa merasakan nikmatnya harga cabai yang bertambah pedas. Seperti harga cabai merah yang saat ini telah menyentuh angka 100.000/kg, bahkan lebih di beberapa tempat lainnya.
Para pedagang yang menggunakan cabai sebagai sajian utama para penggemar kuliner jelas sudah dibuat kelimpungan atas fakta pedas ini. Sementara para ibu rumah tangga yang selama ini mempunyai menu wajib pada rasa pedas di masakannya terpaksa harus mengurangi jumlah penggunaan cabai atau mungkin meninggalkan pedasnya rasa cabai tersebut.

Para petani, pedagang dan analisis terkait menyatakan bahwa perkara melambungnya harga cabai disebabkan oleh kegagalan panen karena faktor cuaca. Petani mengatakan, bahwa hujam yang terus turun sepanjang musim ini membuat sebagian besar petani cabai tidak bisa panen, hal itu berimbas pada panen yang jelek atau produksi panen yang menurun. Akibatnya jumlah produksi cabai tidak mampu mencukupi kebutuhan konsumen. Itulah yang menjadi asal muasal kebijakan harga cabai melunjak. Seperti yang dikabarkan oleh sejumlah bandar cabai yang ada di Pasar Majalengka, mahalnya harga cabai tersebut akibat pasokan dari petani yang kian menurun belakangan waktu ini. Padahal biasanya di bulan September hingga awal November pasokan cabai merah dari wilayah pemasok seperti Kertajati, Lingung, Lemahsugih, Banjaran serta Brebes jumlahnya itu melimpah.
Menteri Koordinator (Menko) Perekonomian Darmin Nasution memastikan kenaikan harga cabai yang kerap terjadi berungkali ini bukan disebabkan ada kartel, melainkan dikarenkan kondisi cuaca yang tidak menentu.

Solusi yang dipaparkan menurutnya, agar harga cabai tetap stabil, pemerintah akan memasok cabai dari hasil tani di daerah yang musim hujannya tidak tinggi ke daerah yang itensitasnya tinggi. Namun terdapat permasalahan lain disamping solusi yang di paparkannya yakni kawasan timur Indonesia yang notaben itensitas hujannya tidak begitu tinggi sehingga memungkinkan bisa menyalurkan hasil panen cabai ke daerah lain. Akan tetapi, hal lain yang menjadi perhatian yaitu pada kawasan Indonesia Timur, tidak banyak petani yang menanam cabai. Hal ini akan menjadi perhatian bagi pemerintah kedepannya, untuk mencegah hal ini terulang kembali. Pemerintah sebaiknya mengadakan riset untuk bisa mencegah munculnya jamur pada tanaman cabai yang terkena hujan, maka yang rontok akan berkurang, sehingga produksinya akan tetap stabil. Pemerintah harus segera mengambil kebijakan tepat, guna menyelamatkan para pengusaha kuliner menengah kebawah, dan menjaga stabulitas ekonomi bangsa Indonesia.

(SENDI ROMADHON /KPI)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar