DIBALIK
HARGA CABAI YANG MAKIN PEDAS
Tatkala
ramainya persidangan kasus penistaan Agama oleh Ahok (Basuki Tjahya Purnama)
yang terhias di stasiun- stasiun Televisi, kini ada hal yang lebih ramai untuk
diperbincangkan oleh khalayak terkait berita yang mengabarkan naiknya harga
cabai. Terasa sudah di Indonesia, beberapa daerah sudah bisa merasakan
nikmatnya harga cabai yang bertambah pedas. Seperti harga cabai merah yang saat
ini telah menyentuh angka 100.000/kg, bahkan lebih di beberapa tempat lainnya.
Para
pedagang yang menggunakan cabai sebagai sajian utama para penggemar kuliner
jelas sudah dibuat kelimpungan atas fakta pedas ini. Sementara para ibu rumah
tangga yang selama ini mempunyai menu wajib pada rasa pedas di masakannya
terpaksa harus mengurangi jumlah penggunaan cabai atau mungkin meninggalkan
pedasnya rasa cabai tersebut.
Para
petani, pedagang dan analisis terkait menyatakan bahwa perkara melambungnya
harga cabai disebabkan oleh kegagalan panen karena faktor cuaca. Petani
mengatakan, bahwa hujam yang terus turun sepanjang musim ini membuat sebagian
besar petani cabai tidak bisa panen, hal itu berimbas pada panen yang jelek
atau produksi panen yang menurun. Akibatnya jumlah produksi cabai tidak mampu
mencukupi kebutuhan konsumen. Itulah yang menjadi asal muasal kebijakan harga
cabai melunjak. Seperti yang dikabarkan oleh sejumlah bandar cabai yang ada di
Pasar Majalengka, mahalnya harga cabai tersebut akibat pasokan dari petani yang
kian menurun belakangan waktu ini. Padahal biasanya di bulan September hingga
awal November pasokan cabai merah dari wilayah pemasok seperti Kertajati,
Lingung, Lemahsugih, Banjaran serta Brebes jumlahnya itu melimpah.
Menteri
Koordinator (Menko) Perekonomian Darmin Nasution memastikan kenaikan harga
cabai yang kerap terjadi berungkali ini bukan disebabkan ada kartel, melainkan
dikarenkan kondisi cuaca yang tidak menentu.
Solusi
yang dipaparkan menurutnya, agar harga cabai tetap stabil, pemerintah akan
memasok cabai dari hasil tani di daerah yang musim hujannya tidak tinggi ke
daerah yang itensitasnya tinggi. Namun terdapat permasalahan lain disamping
solusi yang di paparkannya yakni kawasan timur Indonesia yang notaben itensitas
hujannya tidak begitu tinggi sehingga memungkinkan bisa menyalurkan hasil panen
cabai ke daerah lain. Akan tetapi, hal lain yang menjadi perhatian yaitu pada
kawasan Indonesia Timur, tidak banyak petani yang menanam cabai. Hal ini akan
menjadi perhatian bagi pemerintah kedepannya, untuk mencegah hal ini terulang kembali.
Pemerintah sebaiknya mengadakan riset untuk bisa mencegah munculnya jamur pada
tanaman cabai yang terkena hujan, maka yang rontok akan berkurang, sehingga
produksinya akan tetap stabil. Pemerintah harus segera mengambil kebijakan
tepat, guna menyelamatkan para pengusaha kuliner menengah kebawah, dan menjaga
stabulitas ekonomi bangsa Indonesia.
(SENDI ROMADHON /KPI)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar